Toxic 20 atau 20 PLTU Paling Berbahaya di Indonesia dipilih berdasarkan dampak emisi karbon yang tinggi, usia yang tua berdasarkan berbagai sumber data salah satunya perhitungan kerugian ekonomi oleh CELIOS, biaya kesehatan oleh CREA dan dampak langsung ke masyarakat oleh Trend Asia.
Analisis ini merangking 38 PLTU milik PLN dan IPP, berdasarkan Indeks Komposit dari tiga parameter berbobot sama — mengidentifikasi 20 PLTU yang paling membebani masyarakat dari sisi kesehatan, ekonomi, dan iklim.
| Peringkat | Nama Pembangkit/ Kompleks Pembangkit | Provinsi | Kapasitas (MW) | Beban pencemaran udara berbobot (juta USD per TWh) | Usia operasi pada tahun 2025 (tahun) | Emisi CO₂ tahunan (juta ton CO₂ / MTCO₂) | Index 1 | Index 2 | Index 3 | Index final |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Suralaya | Banten | 4025 | 17,0 | 19 | 28,30 | 0,02 | 0,05 | 0,17 | 0,24 |
| 2 | Paiton | Jawa Timur | 7435 | 12,8 | 22 | 23,53 | 0,01 | 0,06 | 0,14 | 0,21 |
| 3 | Cirebon | Jawa Barat | 1524 | 140,9 | 6 | 2,87 | 0,15 | 0,02 | 0,02 | 0,18 |
| 4 | Tanjung Jati B | Jawa Tengah | 2640 | 7,7 | 10 | 19,50 | 0,01 | 0,03 | 0,12 | 0,15 |
| 5 | Cilacap | Jawa Tengah | 2260 | 63,0 | 5 | 9,46 | 0,07 | 0,01 | 0,06 | 0,14 |
| 6 | Bukit Asam | Sumatera Selatan | 260 | 13,6 | 37 | 1,54 | 0,01 | 0,10 | 0,01 | 0,13 |
| 7 | Pacitan | Jawa Timur | 630 | 61,2 | 13 | 3,10 | 0,06 | 0,04 | 0,02 | 0,12 |
| 8 | Pelabuhan Ratu | Jawa Barat | 1050 | 44,8 | 11 | 5,16 | 0,05 | 0,03 | 0,03 | 0,11 |
| 9 | Adipala | Jawa Tengah | 660 | 60,9 | 9 | 2,61 | 0,06 | 0,02 | 0,02 | 0,10 |
| 10 | Indramayu | Jawa Barat | 990 | 33,4 | 14 | 4,87 | 0,03 | 0,04 | 0,03 | 0,10 |
| 11 | Labuan | Banten | 600 | 39,7 | 15 | 2,95 | 0,04 | 0,04 | 0,02 | 0,10 |
| 12 | Batang/Jawa Tengah | Jawa Tengah | 1900 | 48,0 | 2 | 7,40 | 0,05 | 0,01 | 0,04 | 0,10 |
| 13 | Ombilin | Sumatera Barat | 200 | 11,0 | 28 | 1,15 | 0,01 | 0,08 | 0,01 | 0,10 |
| 14 | Jawa-7 | Banten | 1982 | 30,2 | 5 | 7,72 | 0,03 | 0,01 | 0,05 | 0,09 |
| 15 | Celukan Bawang | Bali | 380 | 48,0 | 9 | 2,09 | 0,05 | 0,02 | 0,01 | 0,09 |
| 16 | Pangkalan Susu | Sumatera Utara | 840 | 25,9 | 9 | 4,22 | 0,03 | 0,02 | 0,03 | 0,08 |
| 17 | Tanjung Awar-Awar | Jawa Timur | 700 | 17,2 | 12 | 3,44 | 0,02 | 0,03 | 0,02 | 0,07 |
| 18 | Rembang | Jawa Tengah | 630 | 13,7 | 13 | 3,10 | 0,01 | 0,04 | 0,02 | 0,07 |
| 19 | Banten | Banten | 660 | 30,7 | 7 | 2,61 | 0,03 | 0,02 | 0,02 | 0,07 |
| 20 | Labuhan Angin | Sumatera Utara | 230 | 11,1 | 16 | 1,29 | 0,01 | 0,04 | 0,01 | 0,06 |
Pensiun dini PLTU adalah kebijakan menghentikan operasi pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara lebih cepat dari usia teknis atau kontrak aslinya, demi mempercepat peralihan menuju energi bersih. Hal ini dilakukan karena PLTU merupakan penyumbang utama emisi karbon, polusi udara, dan krisis kesehatan masyarakat, terutama komunitas sekitar wilayah industri batubara.
Kebijakan ini juga bertujuan melindungi ekonomi dan masyarakat dari risiko jangka panjang ketergantungan pada batubara. Melalui pensiun dini, sumber daya dapat dialihkan ke investasi energi terbarukan dan pembangunan ekonomi hijau yang lebih adil, menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memulihkan wilayah yang selama ini terdampak polusi dan eksploitasi batubara.
PLTU batu bara menebar polusi udara yang berujung pada ribuan kematian dini setiap tahun. Mengakhiri operasi PLTU berarti menghentikan kejahatan terhadap kesehatan masyarakat.
PLTU adalah sumber emisi karbon terbesar di sektor energi dan biang kerusakan udara, tanah, serta air. Pensiun dini PLTU adalah langkah mutlak untuk menjaga lingkungan dan memenuhi target net zero.
PLTU semakin mahal dan tidak efisien. Mempertahankannya berarti menanggung beban ekonomi yang sia-sia. Pensiun dini membuka jalan bagi investasi hijau dan pekerjaan masa depan yang lebih berkelanjutan.
PLTU telah merusak ruang hidup, Dan penghidupan masyarakat terdampak. Mengorbankan nelayan, petani, dan pekerja lokal. Penghentian dini harus menjadi awal dari pemulihan sosial dan ekonomi yang adil bagi masyarakat di sekitar proyek.
Dengan mempensiunkan PLTU sekarang, Indonesia menunjukkan keberanian memimpin perubahan—menarik investasi hijau, memperkuat reputasi global, dan menegaskan arah menuju ekonomi bersih yang berkeadilan.
Ya. Karena keuntungan jangka panjang yang didapat dari pemensiunan dini PLTU batubara jauh lebih besar dari mempertahankannya. Hal inilah yang kerap tidak diperhitungkan dalam kebijakan energi di Indonesia. Pensiun dini PLTU adalah tindakan mendesak untuk memulihkan keseimbangan lingkungan yang telah rusak akibat puluhan tahun pembakaran batubara. Menghentikan PLTU berarti memutus rantai perusakan ini dan memberi ruang bagi pemulihan alam.
Dari sisi keadilan dan kepentingan nasional, pensiun dini PLTU harus dipandang sebagai investasi bagi masa depan ekonomi Indonesia. Ketergantungan pada batubara hanya menguntungkan segelintir elit dan meninggalkan biaya sosial yang ditanggung rakyat. Dengan mengalihkan dukungan ke energi terbarukan, Indonesia dapat menciptakan lapangan kerja hijau, menekan biaya kesehatan akibat polusi, dan menarik investasi global yang berkelanjutan. Ini bukan sekadar keputusan moral, tetapi strategi ekonomi cerdas: menghentikan energi kotor sekarang demi keuntungan sosial, ekologis, dan fiskal yang jauh lebih besar di masa depan.
Pensiun dini PLTU adalah kebijakan menghentikan operasi pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara lebih cepat dari usia teknis atau kontrak aslinya, demi mempercepat peralihan menuju energi bersih. Hal ini dilakukan karena PLTU merupakan penyumbang utama emisi karbon, polusi udara, dan krisis kesehatan masyarakat, terutama komunitas sekitar wilayah industri batubara.
Kebijakan ini juga bertujuan melindungi ekonomi dan masyarakat dari risiko jangka panjang ketergantungan pada batubara. Melalui pensiun dini, sumber daya dapat dialihkan ke investasi energi terbarukan dan pembangunan ekonomi hijau yang lebih adil, menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memulihkan wilayah yang selama ini terdampak polusi dan eksploitasi batubara.
Pemerintah menargetkan netralitas karbon pada tahun 2060 atau lebih cepat, dengan dukungan internasional yang kuat. Salah satu langkah untuk mencapai target ini adalah penghentian dini PLTU demi mengurangi emisi dari sektor energi.
Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), pemerintah mencantumkan peta jalan untuk menghapus PLTU secara bertahap mulai 2030, dengan memprioritaskan pembangkit yang tua atau tidak efisien.
Melalui JETP, Indonesia menerima dukungan internasional untuk mempercepat transisi energinya, termasuk pendanaan untuk menutup PLTU lebih awal. Kemitraan ini juga bertujuan memastikan bahwa transisi energi dilakukan secara adil dan tidak merugikan pekerja maupun masyarakat yang bergantung pada sektor batu bara.
Pemerintah juga bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) untuk mengimplementasikan Mekanisme Transisi Energi (Energy Transition Mechanism/ETM). Mekanisme ini dirancang untuk mempercepat pensiun dini PLTU dan menggantinya dengan sumber energi yang lebih bersih.
Pada tahun 2021, pemerintah mengumumkan moratorium pembangunan PLTU baru setelah tahun 2023. Kebijakan ini menjadi langkah penting untuk membatasi jumlah PLTU yang beroperasi di masa depan dan mempercepat pergeseran menuju energi terbarukan.
Salah satu bentuk dukungan pemerintah terhadap pensiun dini PLTU adalah dengan mempercepat pengembangan kapasitas energi terbarukan seperti surya, angin, dan mikrohidro. Instalasi pembangkit energi terbarukan tersebut akan menjadi tulang punggung pengganti kebutuhan listrik nasional ke depan.